Ketua OPM Jeffrey P Bomanak

Pasca Black Campaign, OPM Kembali Tuduh Pemerintah Indonesia Lakukan Taktik Papua Bunuh Papua

by Laura Felicia Azzahra
Ketua OPM Jeffrey P Bomanak

Tuduhan terhadap pemerintah Indonesia hingga kini terus dilakukan oleh pihak TPNPB OPM beserta afiliasinya. Jika sebelumnya terdapat black campaign yang menyebut bahwa aparat gabungan TNI Polri telah melakukan operasi militer di Nduga yang merupakan basis kelompok tersebut. Disebut pula bahwa aparat telah menembaki warga sipil, padahal sebenarnya sedang melakukan pengejaran terhadap sejumlah aksi yang dilakukan oleh anggota TPNPB OPM.

Kini melalui salah satu tokohnya, Jeffrey P Bomanak, kembali memanfaatkan unggahan di media sosial Facebook, dengan entengnya membuat narasi yang menyudutkan Indonesia. Dengan format pemberitahuan, ditujukan kepada seluruh rakyat Papua tentang strategi militer Indonesia yang disebut kolonial dengan taktik Papua bunuh Papua. Menurutnya, anak-anak muda Papua lebih baik menjadi pasukan TPNPB OPM atau mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan lain, selain menjadi anggota TNI Polri. Strategi kolonial yang dimaksud adalah menciptakan konflik antar Papua dan Papua dengan taktik Devide et Impera (pecah belah) kesatuan dan persatuan bangsa Papua dengan mengangkat anak-anak muda asal Papua menjadi anggota TNI Polri dan menempatkan mereka di wilayah konflik antara TPNPB OPM dan TNI Polri.

Dalam pemikirannya, ketika pasukan TPNPB OPM menembak mati pasukan TNI Polri asal Papua, maka pemerintah Indonesia manfaatkan kematian orang Papua menjadi bahan diplomasi Indonesia di tingkat internasional dan menciptakan momentum tersebut sebagai alasan orang Papua harus membenci TPNPB OPM. Di akhir tulisannya, ia menyebut bahwa perang pembebasan nasional Papua Barat akan tetap berlanjut hingga bangsa Papua merdeka dan berdaulat, oleh sebab itu rakyat Papua harus dewasa secara politik, sipil, militer, dan diplomasi hingga Papua harus merdeka dan berdaulat, menajdi tanggung jawab seluruh rakyat bangsa Papua.

Sebuah strategi pemutarbalikkan fakta sekaligus playing victim yang kembali dilakukan demi sebuah misi oleh segelintir pihak terkait upaya kemerdekaan Papua namun kemudian digeneralisir mengatasnamakan seluruh masyarakat Papua yang disebut harus turut bertanggung jawab.

Kelompok Separatis Mainkan Black Campaign untuk Kais Simpati Publik

Jamak diketahui bahwa perebutan pengaruh dan kekuasaan di era sekarang ini tak hanya mengandalkan fisik angkat senjata semata. Namun, lebih dari itu, permainan pengaruh dan cipta opini juga “digarap” oleh TPNPB OPM melalui sejumlah skema dan narasi. Terbaru, permainan black campaign telah dilontarkan dengan menyebut bahwa TNI Polri menyerang markas Kelompok Separatis pimpinan Egianus Kogoya pada 23 Maret 2023 lalu. Seperti di atas angin, black campaign yang kemudian turut disiarkan oleh media asing bernama Radio New Zealand (RNZ) tersebut menyebut bahwa prajurit TNI Polri telah menyerang markas kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya. Media tersebut menyebut bahwa serangan yang menyebabkan satu anggota kelompok separatis tewas merupakan buntut dari penyanderaan pilot Susi Air. Namun gara-gara serangan tersebut, disebut pula bahwa kelompok separatis melancarkan serangan balik yang kemudian menewaskan satu prajurit TNI dan satu anggota Polisi saat sedang mengamankan sholat tarawih di distrik Ilu Puncak Jaya.

Berangkat dari hal tersebut, apa yang disampaikan dan menjadi pemikiran oleh Jeffrey P Bomanak tak bisa dibenarkan. Segala yang dituliskan sebenarnya berbalik kepada tabiat pihaknya sendiri. Selama ini yang terpola di kelompoknya adalah menjadikan masyarakat sipil sebagai tameng untuk menghindari atas kesalahan yang dilakukan melalui sejumlah aksi penyerangan. Jika aparat TNI Polri berhasil melumpuhkan sejumlah anggotanya, maka para simpatisan dan afiliasinya serentak merespon dengan pelanggaran HAM. Namun jika mereka menyerang masyarakat sipil, selalu disebut sebagai aparat yang menyamar. Terlebih melalui juru bicaranya, Sebby Sambom dengan bangganya mengaku bertanggung jawab terhadap setiap korban jiwa dari aksi penyerangan yang dilakukan. Sebuah hal gila yang mestinya tidak diikuti oleh anak-anak muda Papua di masa mendatang.

Berdasarkan data kejadian insiden yang pernah terjadi. Kelompok separatis berulang kali melancarkan aksi teror pada sejumlah wilayah Papua. Di Kabupaten Puncak misalnya, aksi yang menimbulkan korban jiwa dan menyimpan trauma bagi masyarakat tersebut antara lain yakni penembakan terhadap seorang tukang ojek di jembatan Ilame, Kampung Wako, Distrik Gome, pada 23 Januari 2023; penyerangan terhadap seorang anggota TNI di Pasar Sinak, Distrik Sinak, pada 24 Januari 2023; pembakaran sebuah rumah dan baku tembak dengan aparat keamanan di Ilaga pada 18 Februari 2023; penyerangan Pos TNI dan menembak mati satu prajurit TNI serta seorang warga sipil di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak. pada 3 Maret 2023; serta menembak mati seorang tukang ojek di pertigaan jalan Kimak, Distrik Ilaga, pada 22 Maret 2023.

Berdasarkan pernyataan Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri, bahwa gangguan keamanan yang dilakukan kelompok bersenjata TPNPB OPM telah berulang kali terjadi sejak awal 2023. Sejumlah penyerangan menimbulkan korban jiwa dari pihak prajurit TNI, polisi, maupun warga sipil. Selain itu juga terjadi penembakan terhadap Markas Komando Distrik Militer Persiapan dan pembakaran Kantor Distrik Gome. Dirinya mengimbau wara sipil untuk tidak berpergian ke tempat yang jauh dari pantauan aparat keamanan, baik Polri maupun TNI.

Egianus Kogoya Adalah Contoh Generasi Muda Papua yang Salah Urus

Maka sebelum kemudian mengimbau para pemuda Papua untuk tidak masuk ke TNI dan Polri karena alasan yang hanya menyudutkan pemerintah Indonesia. Perlu sedikit refleksi bahwa di dalam kelompok TPNPB OPM terdapat banyak anak muda yang terkubur impiannya karena terjerumus ke hal yang salah dan berlarut hingga saat ini. Egianus Kogoya bisa menjadi representasi kasus tersebut. Dirinya merupakan Orang Asli Papua yang salah didik hingga menjadi seperti demikian seperti sekarang ini.

Akademisi Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung pernah menuliskan sebuah catatan mengapa seorang Egianus Kogoya menjadi begitu brutal dan sadis. Dijelaskan bahwa kondisi tersebut berhubungan dengan kisah masa lalunya saat sekolah di Kota Wamena Jayawijaya tidak disentuh dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Dalam sebuah penelitian yang dilakukannya tahun 2014 lalu di Wamena dan Nduga. Ditemukan fakta bahwa wilayah pembangunan di tiga kabupaten Nduga, dari habema, mbua, dal sampai mugi, sangat tertinggal dan terisolir dalam pelayanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan. Ini wilayah yang menjadi hak ulayat keluarga Egianus Kogoya. Hampir sebagian besar balita dan anak-anak tidak pernah mendapat suntikan imunisasi. Sehingga kematian bayi dan anak sangat tinggi di wilayah ini. Selain krisis kesehatan, proses pendidikan juga tidak berjalan maksimal. Banyak guru-guru tidak bekerja di wilayah ini. Mereka lebih banyak beraktivitas di kota Wamena. Banyak anak usia sekolah dasar, tidak bisa menikmati pendidikan karena hanya satu guru yang aktif. Itupun hanya satu dan dua mata pelajaran yang diajarkan. Mata pelajaran lain tidak, namun setiap terima raport, seluruh mata pelajaran terdapat nilainya. Banyak anak usia SMP yang belum kenal huruf, tidak bisa baca dan berhitung. Untuk mengatasi ketertinggalan pendidikan, banyak orang tua murid dari Kabupaten Nduga, mengirim anak-anaknya untuk sekolah ke kota Wamena yang lebih maju pendidikannya.

Egianus Kogoya juga dikirim orang tuanya untuk sekolah lanjut ke SMP di kota Wamena tahun 2011 pada saat usianya 12 tahun. Selama SMP di kota, Wamena, Egianus Kogoya sangat minder dan tertutup, karena mungkin belum bisa membaca dan berhitung dengan baik. Selain itu juga, hal ini merupakan karakter umum anak-anak Papua. Selama sekolah SMP di Wamena, Egianus memiliki satu perilaku yang menonjol dan menjadi perhatian guru-gurunya. Dirinya setiap mengikuti upacara bendera tidak pernah mau menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengangkat tangannya untuk menghormati bendera merah putih. Disiplin hukuman tidak mengubah sikap dan perilaku Egianus. Bahkan kadang Egianus mendapat kata-kata kasar penuh hinaan dan merendahkannya. Disinilah letak persoalan kebanyakan guru-guru di Papua. Baik guru orang asli Papua maupun non orang asli Papua. Mereka tidak bisa menjaga mulutnya di depan siswa yang sulit diatur. Jika saja sewaktu bersekolah, Egianus bertemu dengan guru yang berkompeten dan memiliki hati membangun pendidikan di tanah Papua, mungkin jalan hidup Egianus Kogoya bisa berubah lebih baik. Sangat disayangkan nasib banyak siswa-siswi orang asli Papua yang tidak bertemu dengan guru yang baik, penuh perhatian, memiliki hati yang tulus membangun pendidikan di Papua dan memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan siswa didiknya.

Tuduhan Taktik Papua Bunuh Papua Tak Lebih dari Upaya Cari Dukungan

Maka adanya tuduhan yang disampaikan oleh Jeffrey P Bomanak terkait Papua bunuh Papua tak lebih dari upaya mencari dukungan kepada generasi muda Papua untuk turut mengupayakan misinya, yakni pelepasan Papua dari Indonesia. Aktivis Papua, Theo Hasegem pernah menyatakan bahwa anggota TPNPB OPM banyak berusia 15 hingga 20 tahun. Mereka meninggalkan sekolah untuk bergabung dengan para senior atau orangtuanya sebagai bagian dari melanjutkan perjuangan. Termasuk juga Egianus Kogoya yang merupakan anak dari tokoh separatis Papua Silas Kogoya yang telah meninggal pada 2011 lalu. Silas terlibat dalam penyanderaan 26 orang termasuk warga asing pada tahun 1996 di Mapenduma. Egianus sendiri disebut sebagai produk konflik dengan Indonesia. Egianus Kogoya dan kelompoknya adalah bagian dari perubahan taktik di bawah pasukan pemberontak Papua yang bersatu sejak 2018. Dalam Penyanderaan Pilot Susi Air, Theo Hasegem menilai bahwa mereka mengharapkan perhatian internasional untuk tujuan dan pengakuan Indonesia.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment