Jayapura – Konflik kekerasan dan bersenjata terus terjadi di daerah pelayanan Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) di Papua, khususnya di Kabupaten Puncak, Intan Jaya, Ndugama dan Puncak Jaya.
Hal ini menjadi perhatian Bupati Puncak Willem Wandik yang mewakili kaum profesional GKII. Dirinya meminta gereja ikut berperan dalam menciptakan perdamaian di daerah tersebut.
“Jemaat, hamba Tuhan dan semua pihak untuk terus berdoa untuk menjaga tanah ini tetap aman,” kata Bupati Wandik saat menghadiri pembukaan Rapat Kerja Wilayah ke-I GKII wilayah II Pegunungan Tengah Papua yang berlangsung di Timika, Selasa 28 Maret 2023.
Wilayah pelayanan GKII yang masih rawan konflik harus menjadi perhatian bersama, agar jemaat bisa kembali mendapatkan pelayanan di segala bidang. Jika tidak, akan mengganggu masa depan generasi gereja Kemah Injil.
“Hari ini, daerah tempat pak Pendeta mau menginjili, tapi ada senjata. Gereja menjadi sulit dalam pelayanan, gedung gereja kosong karena jemaat takut, lari dan ini menjadi pergumulan bersama,” jelasnya.
Bupati Wandik yakin kekuatan gereja Kemah Injil mampu mendamaikan semua pihak. Apalagi gereja sering berdoa agar ada berkat dalam jemaat.
“Gereja membangun masyarakat, umat Tuhan. Namun saat ini pemerintah sulit membangun di wilayah konflik karena masih ada bunyi senjata,” ujarnya.
Dirinya menjelaskan masa depan Papua tidak bisa dibentuk lewat senjata, lewat anak panah, lewat perang. Sebab daerah yang masih ada bunyi senjata, pasti tidak aman. “Sehingga, gereja dan pemerintah bergendengan tangan mencari solusi dalam menyikapi kondisi ini,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum GKII Nasional, Pendeta DR. Daniel Ronda,M.Th mengajak seluruh jemaat Kemah Injil mendoakan konflik berakhir dengan damai.
“GKII selalu siap membantu memediasi sejumlah konflik di Papua, terutama di wilayah pelayanan GKII. Kami berharap kepada pemerintah, TNI-Polri, agar hamba-hamba Tuhan jangan dicurigai,” pintanya.
Sementara itu, Ketua GKII Wilayah II Pegunungan Tengah Papua, Pendeta Hansk Wakerkwa, M.Si mengatakan kegiatan yang digelar 28-30 Maret 2023 dihadiri 28 daerah dengan membahas isu strategis, di antaranya membangun gereja penginjilan di kota dan pendalaman Papua hingga program pengembangan SDM dan pengembangan ekonomi kerakyatan melalui berkebun dan beternak.
“2024 adalah tahun politik, sehingga gereja tidak dijadikan sebagai mimbar dalam politik dan pimpinan gereja, para gembala harus netral. Tugas kita adalah mendoakan, mengarahkan kepada kader potensial untuk bersaing dengan baik di Pemilu 2024,” jelasnya.
“2024 adalah tahun politik, sehingga gereja tidak dijadikan sebagai mimbar dalam politik dan pimpinan gereja, para gembala harus netral. Tugas kita adalah mendoakan, mengarahkan kepada kader potensial untuk bersaing dengan baik di Pemilu 2024,” jelasnya.

