Pdt. Socratez Yoman

Nyatakan Penyandera Pilot Susi Air Pejuang Bermartabat, Socratez Yoman Tak Pantas lagi Disebut Pendeta

by Laura Felicia Azzahra
Pdt. Socratez Yoman

nusarayaonline.id – Setelah cukup lama tak terdengar celotehannya di ranah maya, kembali seorang pendeta politik Socratez Yoman menuliskan opini provokatifnya melalui portal media daring partisan langganannya, yakni normshedpapua.com. Opini yang diberi judul: ‘Egianus Kogoya Pejuang Bermartabat: Akar Konflik Papua Barat Tidak Bisa Diselesaikan dengan Saling Curiga’ tersebut selain menyoroti perihal penyanderaan Pilot Susi Air oleh Egianus Kogoya, juga menyinggung perihal upaya akhiri konflik di Papua yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Dituliskan olehnya bahwa akar konflik Papua Barat yang telah berlangsung sejak tahun 1961 tidak bisa diselesaikan dengan saling curiga. Dirinya kemudian menanggapi pernyataan Panglima TNI, Yudo Margono terkait kecurigaan dalam video Pilot Susi Air bersama TPNPB-OPM terlihat santai dengan baju yang berganti-ganti. Socratez lantas menyebut kecurigaan tersebut berkaitan dengan pandangan para penguasa dan sebagian besar penduduk Indonesia yang rasis menganggap Penduduk Orang Papua Asli (PAOP) merupakan manusia kelas dua yang tak memiliki peradaban. Menurutnya, yang ada dalam pikiran mayoritas masyarakat Indonesia, PAOP seram, menakutkan, tak berpendidikan, dan hanya melakukan kekerasan. Pandangan tersebut telah terbentuk selama bertahun-tahun oleh penguasa Indonesia.

Penyanderaan Pilot Susi Air diakui sebagai upaya untuk mendapat perhatian internasional. Egianus Kogoya dan pasukannya lantas disebut mengerti hati dalam upaya mengawal kemerdekaan papua dengan cara bermartabat, manusiawi, dan terhormat. Egianus Kogoya kemudian diklaim oleh Socratez Yoman sebagai pejuang kemerdekaan papua yang bermartabat dan menghargai kemanusiaan. Dirinya sedang membuktikan bahwa kemerdekaan Papua diraih dengan cara-cara bermartabat dan terhormat.

Sebuah opini yang terlampau subjektif tanpa melihat fakta yang terjadi secara lebih detail. Utamanya berkaitan dengan tindak tanduk seorang Egianus Kogoya yang gambarannya berlawanan dengan kenyataan. Keberadaan Pilot Susi Air yang kerap ditampilkan dalam keadaan sehat mungkin memliliki maksud tersendiri oleh sang penyandera. Hal ini juga menjadi kecurigaan oleh aparat TNI Polri dimana saat ini masih terus diselidiki. Pasalnya, Egianus Kogoya dalam watak dan sikapnya aslinya cenderung kejam. Masih belum luntur dari ingatan, kekejaman yang dilakukannya membunuh anak kepala kampung berumur 8 tahun di Lanny Jaya hanya karena tak diberikan bantuan bahan makanan. Belum lagi sederet aksi kekerasan yang pernah dilakukan dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang.  

Konflik Papua Tak Bisa Diselesaikan dengan Kekerasan Hingga Penyanderaan

Seperti membalikkan pernyataan sang pendeta Politik Socratez Yoman bahwa akar konflik Papua tak bisa diselesaikan dengan saling kecurigaan. Bagaimana bisa hal tersebut terjadi ketika hari demi hari sejumlah penyerangan masih dilakukan oleh kelompok separatis di berbagai wilayah Papua. Pernyataan tersebut seperti menjilat ludah sendiri. Mengerucut pada Egianus Kogoya misalnya, bagaimana tidak aparat keamanan Indonesia tidak merasa curiga terhadap pelaku penyerangan dan kerusuhan di sejumlah wilayah yang dalam aksinya dilakukan secara hit and run.

Nama Egianus Kogoya moncer setelah menyatakan membakar pesawat serta menyandera pilot Susi Air. Namun jauh sebelum itu, namanya juga tenar selain sebagai generasi penerus OPM, juga sejumlah aksi penyerangan yang dilakukan hingga menimbulkan korban jiwa. Nama Egianus Kogoya pernah menjadi perbincangan publik pasca pernyataannya bertanggung jawab terhadap penyerangan di Kabupaten Nduga yang menewaskan 10 masyarakat sipil beberapa tahun silam. Dari sumber pemberitaan sejumlah media, Egianus Kogoya kerap melakukan aksi penyerangan. Sebagai seorang pemimpin kelompok bersenjata, Egianus Kogoya tergolong masih muda karena kelahiran tahun 1999 dan memiliki beberapa anggota yang militan. Ia tercatat terlibat dalam sejumlah aksi penyerangan, mulai dari penembakan pesawat Twin Otter PHK-HVU pada 2018, penyanderaan guru dan tenaga medis di Distrik Mapenduma, hingga penyekapan dan pembunuhan pekerja PT. Istaka Karya di Bukit Puncak Kabo pada Desember 2018. Mereka juga terlibat aksi perampasan dua pucuk senjata api dari anggota Brimob di Papua. Egianus Kogoya juga disebut-sebut terlibat dalam aksi penyelundupan 615 butir amunisi berikut sepucuk senjata api jenis FN yang kemudian diungkap aparat kepolisian. Aksi penyelundupan amunisi dan senjata api ke kelompok Egianus Kogoya terungkap saat polisi melakukan razia di Kabupaten Yalimo pada Rabu 29 Juni 2022 lalu.

Di sisi lain, Egianus Kogoya juga memiliki jejak hitam yang harus diwaspadai bahkan untuk anggota kelompoknya sendiri. Sebuah cerita pernah disampaikan oleh mantan anggotanya yang saat ini telah menyatakan kembali kepada NKRI bernama Tenius Tebuni. Secara tegas, ia membongkar kebohongan para dedengkot kelompok separatis tersebut. Selama bergabung dengan Egianus, ia sering kelaparan di hutan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut para anggota kelompok separatis harus memeras masyarakat yang merupakan warga kampungnya sendiri, bahkan tak segan-segan membunuhnya. Saat itu, alasan dirinya bergabung dengan Egianus Kogoya karena dijanjikan kehidupan serba mudah dimana segala kebutuhan akan dipenuhi termasuk diberikan banyak uang. Namun seiring berjalannya waktu, ia sadar telah ditipu. Dalam cerita tersebut, dijelaskan juga bahwa kelompok separatis Papua tidak solid karena selalu terpecah-pecah dan bergerak sendiri-sendiri. Alasan hampir serupa juga diungkapan sejumlah mantan anggota kelompok separatis Papua, salah satunya Purom Wenda. Dirinya mengaku diberikan janji-janji manis yang ternyata hanya kebohongan belaka.

Adanya kejadian pembunuhan terhadap anak kepala kampung di Lanny Jaya membuktikan bahwa upaya bertahan seorang Egianus Kogoya adalah dengan memanfaatkan warga sipil untuk dipaksa membantu. Hal ini masih menjadi strategi lawas yang dilakukan bahkan sejak di era ayahnya yang juga pernah terlibat dalam penyanderaan 26 anggota tim ekspedisi Lorentz 95 di Mapenduma tahun 1996, yakni Silas Kogoya. Sebelumnya, kejadian gelombang pengungsian warga sipil di distrik Paro juga karena alasan adanya ancaman dari kelompok Egianus Kogoya. Meski bersifat keji dan brutal, namun strategi lawas kelompok separatis tersebut sebenarnya memiliki banyak celah yang dapat dimanfaatkan aparat TNI/Polri yang saat ini tengah berupaya membebaskan sang pilot. Kelompok Egianus Kogoya memiliki sikap temperamen dalam upaya mencari dukungan. Mereka akan kehilangan logika kemanusiaan jika kebutuhan logistik sedang menipis.

Socratez Yoman Tak Cerminkan Seorang Pendeta yang Harusnya Menyejukkan Umat

Sosok Socratez Yoman sebagai seorang pendeta bagi sebagian masyarakat di tanah Papua telah kehilangan marwahnya dalam menyejukkan jemaat. Sejak dulu dirinya bahkan telah bersikap kontradiktif dengan memposisikan diri sebagai seseorang yang membela keberadaan kelompok separatis Papua yang jelas-jelas bertentangan dengan negara. Jika menurut ajaran agama Kristen bahwa pemerintah sebagai wakil Tuhan, maka yang dilakukan Socrates adalah pembangkangan. Dalam kutipan Alkitab Roma 13:1 disarikan bahwa orang Kristen sejati adalah orang yang benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, menjadi pelaku firman. Salah satu wujud nyata manusia terhadap kehendak Tuhan adalah taat kepada pemerintah. Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Tuhan. Tuhan telah menetapkan pemerintah di atas muka bumi dengan maksud agar manusia hidup secara tertib dan teratur, dengan kata lain, pemerintah adalah wakil Tuhan di bumi. Tujuan utama Tuhan mendirikan pemerintah sesungguhnya adalah demi kepentingan manusia itu sendiri. Maka dari itu Tuhan tidak menghendaki umat-Nya menentang, memusuhi atau melawan pemerintah yang sedang berotoritas, sebab “barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” Sekali lagi, bahwa taat kepada pemerintahan berarti juga menghormati ketetapan Tuhan.

Namun hal yang disayangkan terhadap Socratez Yoman adalah Kiprahnya sebagai penggembala umat dipertaruhkan hanya demi sikap politik mendukung pelepasan Papua dari Indonesia. Sejumlah jejak dari aksi yang dilakukan telah membuat banyak pihak mengernyitkan dahi dan mengelus dada tak habis pikir terhadap sikap sang pendeta. Setidaknya dari tahun 2014 hingga 2022, sejumlah tokoh dan media telah membahas dan membuka motif sang pendeta yang cenderung berpihak kepada kelompok separatis Papua.

Kasus terbaru yang masih lekat di ingatan publik, di tahun 2022 lalu saat KPK mengusut Gubernur non aktif Papua, Lukas Enembe. Pendeta Socratez Yoman disebut sebagai salah satu tokoh yang mendapat aliran dana dari sang gubernur agar turut mengamankan posisinya. Hal tersebut terindikasi pasca penetapan sang gubernur non aktif sebagai tersangka KPK, Socratez kerap beropini di beberapa portal media, salah satunya normshedpapua.com. Di salah satu tulisannya, ia pernah menyebut bahwa para jenderal berbintang didukung oleh Menko Polhukam dan KPK sedang berperang melawan Lukas Enembe untuk kepentingan konspirasi politik tahun 2024. Menurutnya uang 1 milyar ialah uang pribadi Lukas Enembe yang ada di kamarnya, bukan uang gratifikasi. KPK disebut lembaga yang tidak independen, menjadi alat politik praktis, berperan menjadi alat salah satu partai politik, terutama partai politik yang berkuasa. Sekilas memang pernyataan tersebut terlihat meyakinkan, terlebih disampaikan oleh salah satu tokoh agama, namun kebenaran atas kalimat-kalimat tersebut perlu mendapat verifikasi melalui sejumlah bukti. Untungnya, tak lama berselang terdapat pengakuan dari seorang tokoh Papua yang tidak mau disebut identitasnya, bahwa segala tulisan bernada kritis dan cenderung sentimen negatif terhadap pemerintah merupakan pesanan dari Lukas Enembe. Keberpihakan Socratez Yoman untuk membela Lukas Enembe disebut faktor balas jasa. Begitu juga mungkin pada pembelaan terhadap Egianus Kogoya yang secara fakta telah bertindak kriminal.

Maka kepada Pendeta Socratez Sofyan Yoman, sebagai tokoh agama yang justru berpolitik, membela tokoh dan kelompok separatis yang jelas-jelas merupakan musuh negara pada akhirnya akan berhadapan dengan konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Melindungi tokoh separatis dengan sejumlah catatan kriminal dipastikan sebagai bentuk pelanggaran hukum. Jika memang masih ingin disebut sebagai pendeta, segeralah bertobat.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment