nusarayaonline.id – Beredar unggahan pada portal media online suaraapiperlawanan.com dan akun media sosial Facebook Aliansi Mahasiswa Papua – AMP yang menginformasikan bahwa telah terjadi operasi dan teror kepada warga sipil di daerah Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya Papua. Disebutkan bahwa kegiatan tersebut merupakan operasi pembersihan kampung Pimbinom Kuyawage oleh Satgas Tim Taipur Kostrad dalam rangka operasi Paro 2023.
Dalam kegiatan tersebut terdapat tiga orang warga sipil yang ditangkap. Menurutnya, militer Indonesia telah melakukan intimidasi, interogasi, teror, dan berbagai ancaman terhadap rakyat sipil di Kampung Kuyawage dengan pusatnya di kampung Laurem dan Yugume. Warga sipil tersebut disebut merupakan warga Nduga yang mengungsi sejak tahun 2018 setelah terjadinya kontak tembak antara TNI-Polri dan TPNPB OPM dibawah pimpinan Egianus Kogoya. Dijelaskan pula bahwa masyarakat tersebut merupakan pengungsi yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak tahu soal politik Indonesia namun menjadi sasaran militer Indonesia. Di akhir narasinya, sang penulis memohon bantuan kepada lembaga kemanusiaan agar melakukan pemantauan dan advokasi.
Sebuah narasi yang bersifat provokatif, ditujukan untuk mendegradasi kepercayaan masyarakat sekaligus mengadu domba antara orang Papua dan aparat TNI Polri. Bak sebuah magnet, narasi tersebut hanya menampilkan ujung satu sisi tanpa bersedia memperlihatkan sisi lain. Perlu adanya klarifikasi ataupun penjelasan lebih lanjut dari sisi lain atau pihak terkait selaku yang dituduh melakukan operasi dan teror kepada masyarakat.
Perluasan Wilayah Pencarian dalam Rangka Pembebasan Pilot Susi Air
Meski saat ini belum terdapat pernyataan dari sisi aparat TNI/Polri berkaitan dengan hal tersebut. Namun jika dilihat dari isi dan format laporan yang diunggah, merupakan bagian dari hasil perluasan penjejakan kelompok Egianus Kogoya kaitannya dengan upaya pembebasan pilot Susi Air. Hal tersebut sebelumnya telah disampaikan oleh Kasatgas Damai Cartenz, Kombes Faizal Ramadhani bahwa pihaknya kini telah memperluas pencarian hingga ke kabupaten Lanny Jaya. Salah satu yang mendasari tujuan wilayah tersebut karena sebelumnya Egianus Kogoya diketahui berada di distrik kuyawage bahkan hingga tega membunuh anak dari kepala kampung setempat karena permintaannya meminta bantuan bahan makanan tidak dipenuhi.
Kejadian tersebut telah dipastikan kebenarannya karena tim Satgas Damai Cartenz telah berhasil meminta keterangan dari saksi mata yang melihat penembakan yang dilakukan oleh kelompok Egianus Kogoya. Saksi tersebut sempat melihat kelompok Egianus Kogoya membawa tiga senapan laras panjang, namun tidak diketahui apakah sang pilot Susi Air juga berada di tempat yang sama. Kepala Kepolisian Resor Nduga AKBP Rio Alexander Panelewen juga sempat menjelaskan, keberadaan Egianus Kogoya dan kelompoknya di Kuyawage bukan tanpa alasan. Menurutnya, terdapat beberapa kampung di Kuyawage yang warganya merupakan masyarakat asal Nduga dan memiliki kekerabatan langsung dengan Egianus.
Maka besar kemungkinan adanya unggahan dengan format laporan whatsapp yang kemudian dituduh sebagai operasi dan teror terhadap warga sipil di Kuyawage tersebut merupakan salah satu upaya untuk menyisir keberadaan Egianus Kogoya beserta kelompoknya. Untuk diketahui bahwa sebelumnya aparat TNI Polri juga sempat mengosongkan distrik Paro dengan mengungsikan masyarakat yang berdomisili di wilayah tersebut agar memudahkan dalam pembebasan pilot Susi Air. Hal yang sama besar kemungkinan juga sedang dilakukan di wilayah Kuyawage Lanny Jaya. Bahkan dalam laporan tersebut terdapat temuan tiga orang yang memiliki sejumlah bukti kuat memiliki hubungan atau kedekatan dengan Egianus Kogoya.
Upaya Egianus Kogoya Pecah Konsentrasi Aparat dengan Berpindah-pindah Tempat
Motif perpindahan lokasi oleh Egianus Kogoya sebenarnya bukanlah hal baru dalam dunia peperangan. Hal tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengecoh pihak lawan agar tak mudah bertemu ataupun tertangkap. Komandan Resor Militer 172/PWY Brigjend TNI J.O Sembiring menyatakan bahwa Kelompok Separatis Papua pimpinan Egianus Kogoya berupaya memecah konsentrasi aparat dengan posisi yang berpindah-pindah. Namun pihaknya menegaskan telah berhasil memecah kekuatan kelompok separatis tersebut untuk kemudian tidak bersatu.
Ditemukan fakta berdasarkan hasil investigasi di Yahukimo bahwa ditemukan kelompok-kelompok OPM di wilayah tersebut yang merupakan pecahan dari pasukan Egianus Kogoya dan sengaja memutarbalikkan fakta serta melakukan provokasi. Pemimpin pelaksanaan operasi pembebasan pilot Susi Air tersebut mengimbau kepada masyarakat agar berani melapor kepada aparat keamanan apabila melihat pergerakan kelompok kelompok separatis masuk ke kampung dengan memanfaatkan alat komunikasi yang ada di desa dan distrik. Masyarakat diharapkan agar tidak takut untuk melapor kepada pihak aparat keamanan.
Sementara itu berkaitan dengan adanya video pilot Susi Air yang beredar di pemberitaan media online sebelumnya. Saat ini tim Satgas Damai Cartenz masih melakukan identifikasi keaslian video yang berisi pernyataan dari sang pilot. Identifikasi dilakukan untuk mengetahui apakah video dan foto-foto yang beredar merupakan barang baru atau lama, termasuk juga mencari lokasi penyanderaan berdasarkan video tersebut.
Video yang juga tersebar di media sosial tersebut, berisi pernyataan pilot Philips bahwa dirinya akan dibebaskan bila bangsa Indonesia memberikan kemerdekaan kepada Papua Barat. Ia juga meminta PBB untuk memediasi Indonesia dan Papua agar segera membebaskan dirinya. Video yang berdurasi kurang dari satu menit tersebut, nampak pilot Philip mengenakan jaket berwarna biru didampingi Egianus Kogoya dan anggota OPM lainnya membawa senjata laras panjang dan pendek serta senjata tradisional.
Mengedepankan Pendekatan Kemanusiaan dalam Penyelesaian Masalah Papua
Hingga saat ini, sejumlah respon hingga masukan terkait penyelesaian masalah di Papua terus menjadi kajian dari sejumlah pihak. Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menilai bahwa Papua jika diibaratkan adalah seorang anak yang selama ini tidak mendapatkan kasih sayang dan kemudian ngambek. Kekecewaan masyarakat Papua tidak hanya tertuju pada pemerintah. Namun juga terhadap orang-orang yang selama ini mendapat mandat duduk di pemerintahan wilayah tersebut namun justru malah tersangkut kasus korupsi. Akibatnya, angka kemiskinan dan stunting di Papua masih tinggi. Indikator kesejahteraan sosial di Papua juga paling rendah. Dengan beragamnya masalah tersebut, sudah selayaknya pendekatan keamanan tidak lagi menjadi pilihan utama untuk menyelesaikan permasalahan di Bumi Cenderawasih.
Dirinya menyarankan adanya pendekatan kemanusian yang dikedepankan sehingga hati masyarakat kemudian menjadi lebih terbuka. Dalam menjalankannya, terdapat peran tokoh adat, tokoh agama, hingga pengurus gereja secara optimal dan maksimal. Sebab tiga elemen masyarakat tersebut paling memahami apa yang selama ini menjadi persoalan di tanah Papua.
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)

