Jayapura – Sebanyak 83 anak di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, mengalami campak dan 13 di antara mereka meninggal dunia, menurut data sementara dari Paroki Kristus Penebus Timeepa.
Pastor Paroki Kristus Penebus Timeepa, Yeskiel Belau, memperkirakan jumlah itu bisa jadi bertambah karena ada wilayah lain yang belum dicek.
Data resmi pusat paroki mencatat 49 kasus campak terjadi di Timeepa, 15 kasus di Stasi Degadai, 10 kasus di Stasi Ponaige, dan sembilan kasus di Kuasi Paroki Deneiode.
Sementara itu, untuk data anak yang meninggal dunia karena campak di Timeepa sebanyak empat anak, lima anak di Stasi Degadai, dua anak di Stasi Ponaige, dan dua anak di Deneiode.
“Akibat diserang penyakit serampa itu, lalu semangat makan berkurang. Akhirnya badan kurus hingga meninggal,” kata Yeskiel kepada BBC News Indonesia, Jumat (03/03). Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai mengaku belum menerima data itu. Per Jumat (03/03), hanya 16 orang yang tercatat mengalami campak di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), melalui Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan “belum ada laporan” terkait kasus tersebut.
Per Januari lalu, Kemenkes melaporkan 12 provinsi mengeluarkan penyataan kejadian luar biasa (KLB) campak. Salah satu di antaranya adalah Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

