Jayapura – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua menyatakan komitmennya untuk mendukung Indonesia’s Folu Net Sink 2030 dalam penanganan perubahan iklim.
Hal itu disampaikan Plh Gubernur Papua, Ridwan Rumasukun saat membuka acara sosialisasi sub nasional Indonesia’s Folu Net Sink 2030 di Jayapura beberapa waktu lalu, dikutip Tribun-Papua.com, Minggu (19/2/2023).
“Walaupun ini baru sebatas sosialisasi tetapi para peserta harus betul-betul mengikuti dengan baik dan sungguh-sungguh karena ini sangat penting,” tutur Ridwan.
Lebih jauh Ridwan menjelaskan, Indonesia melalui Undang-undang Nomor 6 tahun 1994 telah ikut meratifikasi konvensi perubahan iklim.
“Hal ini membawa Indonesia secara resmi terikat dengan kewajiban dan memiliki hak untuk memanfaatkan berbagai peluang dukungan yang ditawarkan United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) atau konvensi kerangka kerja PBB atas perubahan iklim,” jelas Ridwan Rumasukun.
Ridwan Rumasukun menuturkan, konvensi tersebut sebagai bentuk upaya memitigasi adaptasi perubahan iklim dan informasi relevan dengan pencapaian tujuan konvensi tersebut.
“Seperti yang diketahui saat ini, isu soal perubahan iklim menuntut banyak negara berkembang terutama yang memiliki hutan luas, termasuk Provinsi Papua di Indonesia untuk ikut terlibat aktif menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray menyampaikan dengan luasan hutan yang dimiliki Papua tentunya memiliki andil dalam mewujudkan Indonesia’s Folu Net Sink 2030.
“Sesuai data lahan kritis, luas Provinsi Papua sebesar 31 juta hektare lebih dan luas lahan kritis sebesar 393.371 hektare, tentu sesuai data lahan kritis tahun 2020,” kata Jan.
Kemudian presentase lahan kritis di Provinsi Papua mencapai 1,24 persen, sedangkan luas kawasan hutan di Papua sendiri yakni 29 juta hektare.
“Kami terus berupaya dan berkomitmen untuk melakukan reboisasi dan pengembalian fungsi lahan kritis di Provinsi Papua,” tandasnya.
Pada tahun 2022, Jam menyampaikan pihaknya telah melaksanakan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan seluas 550 hektare.
“Pada tahun 2023 ini, kami berencana melaksanakan rehabilitasi hutan dan lahan dengan luas 380 hektare,” katanya.
Sekadar diketahui, komitmen Indonesia melalui FOLU Net Sink 2030 mendorong tercapainya tingkat emisi gas rumah kaca sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030.
Ini dilaksanakan melalui pendekatan yang terstruktur dan sistematis, serta pelaksanaan program tersebut merupakan wujud nyata dari komitmen sektor kehutanan Indonesia.
Tentu tak hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk berkontribusi kepada masyarakat global menuju pemulihan hijau, sekaligus membangun ekonomi yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

