Pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens Disandera Kelompok Separatis Papua

Keterlibatan Tokoh Gereja Diharapkan dapat Mempercepat Pembebasan Pilot Susi Air

by Laura Felicia Azzahra
Pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens Disandera Kelompok Separatis Papua

nusarayaonline.id – Pasca dirilisnya video serta foto oleh juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom yang memperlihatkan kondisi Pilot Susi Air, Philip Mark Merthens. Sejumlah upaya terus dilakukan aparat keamanan dalam rangka membebaskan sang pilot yang hingga kini masih terus dicari titik akurasi keberadaannya.

Pemerintah melalui Menko Polhukam, Mahfud MD menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan kelompok separatis Papua soal permintaan memerdekakan Papua dari Indonesia. NKRI berdasar konstitusi, berdasar hukum internasional, dan berdasarkan kenyataan faktual. Bahwa Papua adalah bagian sah dari NKRI, oleh sebab itu tidak ada negosiasi soal pengakuan Papua merdeka. Kemudian, Wakil Presiden, Ma’ruf Amin juga menekankan bahwa isu keamanan di Papua tidak bisa digeneralisasi antara masing-masing wilayah. Insiden penyanderaan pilot Susi Air tidak mencerminkan keamanan di wilayah lain Papua. Apabila terdapat sekelompok individu yang melakukan tindakan ofensif, hal tersebut tidak lagi dapat digeneralisasi menjadi satu kesatuan Papua. Berangkat dari hal tersebut untuk menjaga kestabilan keamanan di Papua, perlu adanya aksi defensif aktif dari para penegak hukum dan penjaga keamanan wilayah. Terciptanya keamanan tentunya juga merupakan salah satu kunci utama dalam melaksanakan pembangunan di Papua.

Upaya Pencarian Pilot Susi Air Libatkan Tokoh Masyarakat

Hingga saat ini sejumlah tim telah diterjunkan untuk mencari keberadaan sang pilot. Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Kav Herman Taryaman mengungkapkan bahwa tim gabungan telah mengerahkan pesawat dan helikopter untuk melakukan pencarian dari udara. Untuk jalur darat, tim gabungan bekerja sama dengan pemerintah Nduga dan tokoh masyarakat melalui pendekatan persuasif dan membangun komunikasi. Sementara itu, Pemerintah Selandia Baru melalui diplomatnya menawarkan bantuan untuk mencari keberadaan sang pilot yang merupakan warga negaranya.

Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri menyatakan bahwa pihak gereja juga akan dilibatkan dalam membujuk kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya agar segera membebaskan pilot Susi Air. Semoga dengan sentuhan dari hati ke hati yang dilakukan sejumlah pihak bisa membuat seorang Egianus Kogoya luluh dan penyelamatan pilot bisa dilakukan dengan lancar. Dirinya juga menegaskan bahwa foto dan video pilot Susi Air yang beredar merupakan dokumentasi lama yang direkam saat pesawat Susi Air dibakar. Hal tersebut merupakan upayanya untuk menunjukkan kedigdayaannya yang kemudian dimanfaatkan oleh Sebby Sambom yang mengaku sebagai juru bicara TPNPB-OPM.  Apa yang dilakukan oleh Egianus Kogoya sebagai warga Kabupaten Nduga sebenarnya merugikan diri sendiri. Teror dan ancaman yang diterbarnya selama ini berimbas terhadap kehidupan masyarakat. Untuk diketahui bahwa keberadaan pesawat Susi Air adalah untuk melayani masyarakat, logistik bahan makanan dan juga angkutan untuk pembangunan di daerah terpencil.

Kabar terbaru, bahwa Penjabat Bupati Nduga, Namia Gwijanhhe telah mengirimkan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat ke distrik Paro untuk bernegosiasi membebaskan sang pilot. Sebelumnya, penjabat tersebut juga telah meminta Egianus Kogoya untuk melepaskan pilot Susi Air dalam keadaan selamat dan sehat. Bahkan pemerintah Kabupaten Nduga telah mengirimkan tim ke Paro untuk memastikan kondisi Philip dalam keadaan aman.

Upaya Egianus Kogoya Cari Perhatian Internasional Melalui Penyanderaan Pilot Susi Air

Melihat sepak terjang seorang Egianus Kogoya yang kerap bertindak anarkis, terdapat sebuah strategi yang dirasa berbeda dalam insiden penyanderaan kali ini. Hal tersebut dinilai oleh Ketua Cyber Indonesia, Husin Alwi Shihab yang mengatakan terdapat hal aneh dalam penyanderaan sang pilot Susi Air. Berdasarkan track record Egianus Kogoya, siapapun orang yang masuk di wilayah mereka langsung dihabisi. Terdapat kemungkinan bahwa disanderanya sang pilot adalah upayanya untuk menunjukkan kepada pihak asing bahwa kelompoknya tetap bersikap manusiawi. Sementara itu, akun twitter milik pemilik Susi Air, @susipudjiastuti juga menanyakan motif OPM menyandera sang pilot apakah mau mencari muka ke dunia barat bahwa mereka manusiawi.

Surat Terbuka Kepada Egianus Kogoya agar Bebaskan Pilot Susi Air

Upaya pembebasan sang pilot tak hanya dilakukan oleh pemerintah melalui aparat keamanan. Sejumlah pihak juga turut mendoronga agar sang pilot segera dibebaskan. Salah satunya datang dari akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua, Marinus Mesak Yaung. Dalam kontribusinya, ia menuliskan surat terbuka yang ditujukan kepada Egianus Kogoya dan kelompok sipil bersenjata di tanah Ndugama, Papua Pegunungan. Menurutnya, tindakan melakukan penyanderaan pilot untuk dijadikan instrumen propaganda dan diplomasi agenda Papua merdeka tidak efektif bahkan memperburuk citra kelompok separatis di mata internasional.

Dirinya menjabarkan alasan tersebut dalam beberapa poin. Pertama, Selandia Baru tidak mempunyai kepentingan di Papua. Kedua, kepentingan negara diatas kepentingan individu atau warga negara. Negara Selandia Baru tidak akan merusak hubungan diplomatiknya dengan Indonesia hanya karena satu warganya disandera. Tidak mungkin Selandia Baru bisa memenuhi tuntutan untuk menekan Indonesia mengakui kemerdekaan Papua. Ketiga, menyerang, menggangu dan merusak penerbangan sipil adalah salah satu pelanggaran serius terhadap hukum perang atau hukum humaniter Internasional. Kelompok Egianus Kogoya sudah berkali – kali melakukan kekerasan yang bertentangan dengan hukum humaniter internasional dan prinsip-prinsip piagam PBB. Keempat, melakukan tindakan penyanderaan warga negara asing seperti sedang menginjak-injak harga diri dan martabat bangsa serta negara. Menyandera Pilot Susi Air seperti halnya sedang menghina dan merendahkan harkat dan martabat negara Selandia Baru. Kelima, penyanderaan pilot Susi Air merupakan upaya menjaring angin yang sia-sia karena bukanlah salah satu simbol politik Selandia Baru.

Terakhir, senjata mesin yang ada di tangan kelompok Egianus Kogoya, sebentar lagi akan menjadi barang rongsokan karena terdapat informasi dari anggotanya sendiri bahwa peluru sudah menipis. Bahkan Egianus telah memerintahkan untuk kembali gunakan senjata tradisional sambil menunggu pembelian peluru-peluru baru. Menjadi saran dari seorang dosen Uncen tersebut, sebelum akhirnya disergap dengan kekuatan penuh pasukan keamanan Indonesia, alangkah bijaksana agar segera bebaskan pilot Susi Air. Menjadi pesan terakhir kepada semua, bahwa marilah hidup berdamai dengan Tuhan dan berdamai dengan sesama anak bangsa di atas tanah Papua.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment