“Potensi intoleransi dan radikalisme diduga akan meningkat pada tahun 2023-2024 mendatang, dan ini sebagai sebuah ‘warning’. Menghadapi Pemilu 2024 bisa saja orang melakukan segala upaya, segala cara, tetapi ternyata cara itu adalah cara yang mengarah kepada pelanggaran hukum,” kata Boy yang juga Sekretaris DPC Gerakan Pemuda Marhaenis.
Johan Merdeka Ketua Rakyat Untuk Keadilan dan Supremasi Hukum (RAKSAHUM) SUMUT mengingatkan masyarakat bahwa orang bisa saja melakukan cara apa pun jelang Pemilu 2024. Salah satunya melakukan tindak intoleransi dan kekerasan yang meresahkan dan mengarah pada pelanggaran hukum.
“Diskusi ini bagian dari antisipasi dan memberi pemahaman agar jangan nanti dalam pesta demokrasi itu menggunakan cara-cara yang bisa menimbulkan keresahan, terutama aktivitas berbasis kekerasan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Boy berharap bentuk kekerasan seperti tindak ujaran kebencian alias hate speech, kampanye hitam, penyebaran hoaks hingga kekerasan fisik tak terjadi pada Pemilu 2024 mendatang.
Karenanya, Ia meminta masyarakat bersama membangun kehidupan demokrasi yang mencegah berbagai bentuk kekerasan.
“Kalau kekerasan meningkat, indeks demokrasinya pasti turun. Itu saja,” kata dia.
Ia mengatakan peningkatan radikalisme dipicu dinamika politik. Begitu pula dengan politik identitas yang kemungkinan muncul jelang pemilu.
Sementara itu Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan yang didapuk sebagai narasumber kebetulan juga hadir di Medan dalam berapa kegiatan kebinekaan sebagai narasumber diantaranya kegiatan di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Hotel Mercure Medan dan juga menjadi narasumber di Kampus STT Marelan Medan
Ken menceritakan pengalamannya saat diskusi bahwa dirinya berbeda dengan yang dulu dan keadaan sekarang, dirinya saat ini sudah berdamai diri dan orang lain dengan mengamalkan Pancasila
“Hari ini saya banyak teman, dulu saya selalu mengkafirkan semua orang yang berbeda paham, tapi hari saya merasa damai dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari – hari,” ujarnya
Ken Setiawan mengajak peserta Diskusi untuk bersama sama memberikan pemahaman tentang Pancasila kepada keluarga dan lingkungan untuk menghindari paham intoleransi dan radikalisme
“Jangan pernah letih untuk memahamkan nilai-nilai Pancasila kepada diri dan keluarga serta masyarakat lingkungan agar kita tidak terpapar dalam paham intoleransi dan radikalisme”
Ken juga berharap aparat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme jelang perayaan Natal dan Tahun Baru, jangan sampai terulang kasus bom dan terorisme seperti tahun sebelumnya. pungkasnya
Tampak hadir dalam Diskusi tersebut, Zulkifli Ketua LSM Penjara PN Sumut, Muhammad Putra SH Sekjen LKBH Soksi DID Sumatera Utara, Rinaldi Damanik Aktivis Kota Medan, Lamsiang Sitompul Ketum HBB, Masniar Sijabat Horas Bangso Batak, Muslim Sekjen DPP Betor, Ray Anson Aktivis Medan Utara, Indra Mingka Ketua LKLH Sumut, Rusli Darma Ginting Ketua Galaksi Sumut.
