testing

by Laura Felicia Azzahra

Sektor pariwisata merupakan bidang yang cukup terdampak selama masa pandemi yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Adanya larangan untuk keluar rumah yang disusul dengan larangan terbang dari banyak negara, membuat pengusaha pariwisata menangis, karena okupasi penginapan anjlok. Padahal, sebagian besar dari mereka hanya memiliki satu bidang pekerjaan. Hingga saat ini pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif masih terus menggenjot salah satu sektor andalan negara Indonesia tersebut untuk bangkit dan melesat lebih maju dari sebelumnya. Adanya gelaran KTT G20 2022 dimana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah dipastikan menjadi momentum untuk meramaikan sektor pariwisata dan penunjangnya. Jabatan presidensi yang dipegang Indonesia dalam forum level dunia tak hanya menjadi prestasi namun juga memberikan angin segar bagi pertumbuhan perekonomian khususnya di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif. KTT G20 merupakan forum ekonomi utama dunia yang dihelat di Bali pada bulan November 2022. Event G20 memiliki arti penting di mata dunia karena secara kolektif mewakili sekitar 65% penduduk dunia, 79% perdagangan global dan 85% perekonomian dunia.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Ida Bagus Agung Partha Adnyana menyatakan bahwa KTT G20 memberikan manfaat 1,5 – 2 kali lebih besar secara agregat dibandingkan penyelenggaraan Annual Meeting IMF World Bank di Bali pada 2018. Menjelang acara puncak KTT G20, tingkat hunian di berbagai hotel meningkat signifikan hingga 45,96%. Angka tersebut dipastikan akan terus bertambah di hotel sekitar lokasi utama perhelatan dan luar lokasi puncak G20 di Nusa Dua. Dampak positif lain dari KTT G20 adalah kenaikan reputasi pulau Bali di mata dunia, mengingat terdapat 26 negara yang mendatangkan wartawan dari asalnya masing-masing untuk memeberitakan tentang Bali.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno menargetkan momentum KTT G20 akan menambah cadangan devisa sektor wisata sebesar US$ 2.000 per wisatawan atau per peserta konferensi. Dirinya juga memastikan bahwa dampak ekonomi KTT G20 dapat menopang devisa pariwisata yang masuk ke Indonesia sepanjang 2022. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Association of The Indonesia Tours and Travels Agencies (ASITA), Rusmiati yang berharap bahwa konferensi yang diikuti 19 negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut akan menjadi ajang mendorong bangkitnya sektor pariwisata, baik di Bali maupun provinsi lainnya di Indonesia. Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Fighter Tourism Association (IFTA), Hendra Perdana menyatakan bahwa Presidensi G20 diharapkan bisa ikut mempromosikan pariwisata di Indonesia mulai dari ecotourism hingga sporturism.

Terkait kebijakan pengamanan, Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan bahwa lebih dari 90% masyarakat Bali yang berusia di atas 12 tahun, telah divaksin lengkap, sehingga terbentuk herd immunity. Ungkapan sang gubernur tersebut dilengkapi data dari Tim Satgas Penanganan Covid-19 bahwa saat ini Pulau Dewata sudah masuk zona kuning alias minim penularan Corona. Para turis asing bisa berjalan-jalan dengan aman di Bali, dengan tetap mematuhi Protokol kesehatan.

Sementara itu, Ekonom Syamsul Hidayat, menyatakan bahwa KTT G20 akan memberikan keuntungan sekitar Rp. 1-2 triliun bagi Indonesia, karena devisa negara meningkat. Apalagi event internasional ini tidak hanya diadakan di Bali, tetapi juga di Jakarta, Solo, Bandung, Papua dan lain sebagainya. Sebelumnya terdapat beberapa forum menjelang KTT G20 resmi dibuka, seperti Sherpa Meeting di Jakarta dan W20 (Women Twenty) di Papua. Forum-forum tersebut merupakan rangkaian dari G20 dan pembahasannya lebih spesifik, seperti W20 yang membahas pergerakan para wanita. Ketika forum-forum pendukung G20 diselenggarakan di banyak kota di Indonesia, maka sekaligus memperkenalkan pariwisata sekaligus keunikan di Indonesia. Di mana terdapat banyak kebudayaan dan kesenian dalam satu negara. Keunikan tersebut yang sangat disukai oleh delegasi G20 dimana harapannya kelak mereka akan selalu mengunjungi Indonesia untuk berlibur.

Pada dasarnya, penyelenggaraan G20 merupakan momentum bagi Indonesia dalam upaya menggeliatkan kembali sektor perekonomian dan pariwisata, khususnya pasca pandemi Covid-19. Sejak awal forum ini memusatkan perhatian pada penguatan sistem multilateralisme dan kemitraan global. Presidensi G20 Indonesia 2022 juga dipastikan akan memperkokoh kembali kepemimpinan Indonesia di mata dunia.

Artikel Terkait

Leave a Comment