nusarayaonline.id – Kematian aktivis Kemerdekaan Papua, Filep Karma yang ditemukan terdampar di pantai Base-G Jayapura ternyata masih menyisakan tanya bagi segelintir pihak. Berdasarkan hasil visum luar dan pihak keluarga sebenarnya telah disampaikan bahwa kejadian tersebut murni disebabkan karena tenggelam. Putri Filep Karma, Audry Karma menjelaskan bahwa sang ayah pamit hendak menyelam pada sabtu 29 Oktober 2022, kemudian di hari minggu juga sempat berenang dengan keluarga namun memilih tak pulang. Filep Karma tak pulang lantaran menunggu air laut surut sehingga bisa menyelam, oleh karena itu kemudian ditinggal oleh keluarganya.
Salah satu pihak yang bereaksi terhadap kejadian tersebut adalah dari Amnesty International. Melalui Direkturnya, Usman Hamid meminta aparat penegak hukum dan HAM untuk menginvestigasi kematian Filep Karma. Penyelidikan tersebut disebut penting guna menjawab ada tidaknya indikasi tindak pidana atau pelanggaran HAM dibalik kematian sang aktivis. Penyelidikan yang diminta merujuk pada investigasi atas potensi kematian di luar hukum oleh Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM tahun 2016 atau protocol Minnesota yang menyebut bahwa pada kondisi kematian individu maupun kelompok dalam sebuah kejadian, keluarga seharusnya dilibatkan dan diinformasikan dengan baik mengenai proses identifikasi.
Di sisi lain, dalam iring-iringan pengantaran jenazah ke rumah duka terlihat berkibarnya bendera bintang kejora di tengah massa. Hal tersebut menjadi sorotan dan langsung direspon oleh polisi yang meminta menghentikan aksi pengibaran bendera tersebut. Massa yang disebut terdiri dari aktivis HAM di Jayapura sempat menduduki halaman di depan RS Bhayangkara, Kotaraja. Desakan pengusutan juga sempat disampaikan oleh Petisi Rakyat Papua melalui juru bicaranya Jefri Wenda, dan Manu Farwas dari Simpatisan KNPB. Mereka tidak puas dengan hasil yang disampaikan oleh pihak rumah sakit maupun keluarga terkait kematian Filep Karma.
Pihak Keluarga Nyatakan Kematian Filep Karma Murni Kecelakaan
Sebelum kemudian terdapat respon dari Amnesty International dan kelompok separatis, sebenarnya pihak keluarga telah menyatakan bahwa meninggalnya Filep Karma karena murni kecelakaaan. Diwakili oleh putrinya, Audry Karma menjelaskan bahwa sang ayah meninggal murni akibat kecelakaan laut saat menyelam di kawasan pantai Base G, Kelurahan Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura. Pernyataan tersebut berdasar pada hasil visum luar yang telah diikuti oleh pihak keluarga. Bahkan, pihak keluarga juga sudah menandatangani surat pernyataan penolakan autopsi guna mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Lebih lanjut, dirinya mengajak kepada semua pihak untuk mengikhlaskan peristiwa tersebut dan tidak melakukan hal-hal provokatif serta merugikan banyak pihak.
“Mari kita merelakan bapak. Tidak ada lagi isu-isu atau hoaks-hoaks yang beredar, karena ini murni kecelakaan. Saya mohon bantuan untuk sampaikan, untuk tidak ada lagi kekerasan, kumpul massa, demo dan segala macam,” pungkasnya.
Sebelumnya, pada bulan Desember 2021 Filep Karma juga pernah dilaporkan hilang saat menyelam di perairan Base G Jayapura. Ia kemudian ditemukan sehari setelahnya terdampar di Skouw Yambe dalam keadaan selamat. Filep diketahui merupakan ASN aktif dan pernah berstatus sebagai tahanan politik Papua Barat karena terlibat mengibarkan bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 2004. Sebagian besar masa hidupnya, Filep mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang pegawai negeri sipil. Ayahnya merupakan mantan Bupati Wamena, Andreas Karma. Filep aktif mengekspresikan pandangan politiknya secara damai.
Polisi Pastikan Transparan dan Gandeng Komnas HAM untuk Usut Kematian Filep Karma
Menjadi tugas aparat bahwa dalam setiap temuan kasus harus dilakukan pengusutan, termasuk dalam kejadian yang menimpa Filep Karma. Tak Perlu adanya pernyataan desakan dari Amnesty International atau pihak lain yang serupa, pihak kepolisian pun tengah berupaya untuk mengusut kasus tersebut. Dalam pernyataannya, Kapolresta Jayapura, Kombes Victor Mackbon memastikan akan bersikap transparan dalam mengusut kasus kematian tokoh papua Merdeka Filep Karma dengan menggandeng Komnas HAM Papua.
Sebelumnya terdapat kabar burung terkait penyebab kematian sang aktivis. Terdengar sayup-sayup adanya provokasi yang menyebutkan tuduhan terhadap pihak tertentu dalam kasus Filep Karma. Hal tersebut perlu untuk diwaspadai meski diyakini bahwa masyarakat mampu bersikap cerdas dan kritis dalam memilah dan menyaring informasi yang dikonsumsi. Keterangan dari pihak Rumah Sakit dan keluarga harusnya telah menjadi dasar rujukan kuat dalam kasus yang menimpa Filep Karma. Di luar hal tersebut, bisa jadi tuduhan-tuduhan sengaja dilakukan untuk memperkeruh kondisi di tengah kasus korupsi yang menimpa Gubernur Papua hingga realisasi pemekaran wilayah DOB yang tengah berlangsung.
Mewaspadai Provokasi Pasca Meninggalnya Filep Karma
Tak semua pihak kemudian mengamini atas keterangan pihak Rumah Sakit maupun keluarga perihal kematian sang tokoh kemerdekaan Papua, Filep Karma. Kemunculan bendera bintang kejora dan desakan sejumlah pihak oposisi dan kelompok separatis mengindikasikan adanya potensi provokasi pasca kejadian meninggalnya sang tokoh yang dikagumi.
Sebagai upaya mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut, pihak kepolisian telah melakukan patroli siber pasca meninggalnya tokoh yang disebut karismatik oleh pendukungnya. Dari pantauan di media sosial terlihat beragam spekulasi dan komentar yang muncul mencoba mengurai kematian Filep Karma. Kapolresta Jayapura, Kombes Pol Victor Dean Mackbon menjelaskan bahwa pihaknya telah memerintahkan personel untuk melaksanakan patroli siber guna menindaklanjuti penyebaran-penyebaran konten hoaks dan provokatif.
Maka sekali lagi, dibutuhkan sinergi antara masyarakat dan aparat dalam upaya mengantisipasi adanya kemungkinan provokasi pasca meninggalnya Filep Karma. Kondusifitias wilayah Papua menjadi satu hal yang didambakan seluruh pihak. Jangan sampai ternoda oleh ulang segelintir pihak yang ingin menunjukkan eksistensi hingga kepentingan pribadi. Sa Jaga Ko – ko Jaga sa.
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)

